Beke000's Blog

Get Your Information


Leave a comment

Diawali Menjual Donat, Elang Gumilang Sukses Jadi Raja Tanah



Menjadi pengusaha sukses dan memimpin perusahaan dengan berpenghasilan besar tidak harus menunggu tua, namun bisa memulai dari umur yang sangat belia.

Setidaknya ini bukanlah mimpi tapi kenyataan. Pasalnya sudah banyak cerita menggambarkan pengusaha muda sukses yang mengawali usahanya dari awal dan salah satunya Elang Gumilang (23) CEO PT Dwikarsa Semestaguna, pengusaha muda yang sukses di bidang properti.

Kisah sukses pemuda seperti Elang di Indonesia masih langkah dan mungkin hanya seribu satu, karena walaupun masih berstatus mahasiswa dirinya sudah memimpin sebuah perusahaan dengan omset bermiliaran.

Di saat mahasiswa lainnya disibukkan dengan pergulatan kuliah untuk menggapai masa depan yang lebih baik, Elang sudah mendapatkannya. Pemuda kelahiran Bogor 23 tahun lalu sudah mempunyai masa depan yang baik dengan sukses membuka lapangan kerja dan memperkerjakan ratusan orang berkat kegigihannya untuk berwirausaha yang sudah terasah sejak di bangku SMA.

Menurut Elang, kesuksesan yang diraihnya saat ini bukanlah datang begitu saja. Tapi usaha dengan kerja keras, karena sesuatu tidak didapatkan dengan gratis. Pesan tersebut lah yang selalu diajarkan kedua orang tuanya.

Semangat bisnisnya sudah terlihat sejak kecil dan bahkan naluri beriwarusahanya sangat tajam dalam melihat peluang usaha. Tak ayal dirinya sempat merasai bergai macam pekerjaan, mulai dari berdagang donat, menjadi tukang minyak goreng, jualan bolham hingga terakhir menjadi developer properti untuk pembangunan rumah sangat sederhana. Dikatakannya, bisnisnya di bidang properti diawali sebagai marketing perumahan.

“Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan, hanya saja mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen,” ujarnya, dalam acara Radio Trijaya, bertajuk Talk to CEO, di Jakarta.

Berkat pengalaman sebagai marketing perumahan yang dinilai cukup, telah membuatnya mempunyai pengetahuan di dunia properti.

Sejak saat itu, diapun memberanikan diri ikut tender dalam properti. Kesuksesan yang didapatkannya waktu itu menang dalam tender pembangunan sekolah dasar di Jakarta Barat senilai Rp162 juta.

Kemudian, ambisinya yang ingin terus maju membawanya membangun rumah sangat sederhanya bagi rakyat kecil. Pasalnya saat ini bisnis properti kebanyakan ditujukan hanya untuk kalangan berduit saja.

Sedangkan perumahan yang sederhana dan murah yang terjangkau untuk orang miskin masih jarang sekali pengembang yang peduli. “Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun, biasanya kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai sekarang mereka belum berani untuk memiliki rumah,” jelasnya, dalam acara Radio Trijaya, bertajuk Talk to CEO, di Jakarta.

Dengan modal patungan Rp340 juta, pada tahun 2007 Elang mulai membangun rumah sehat sederhana (RSS) yang difokuskan untuk si miskin berpenghasilan rendah. Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu. Modalnya Elang putar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri.

Elang membangun rumah dengan berbagai tipe, mulai tipe 22/60 dan juga tipe 36/72. Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi tersebut ditawarkan hanya seharga Rp25 juta dan Rp37 juta per unitnya.

“Jadi, hanya dengan DP Rp1,25 juta dan cicilan Rp90 ribu per bulan selama 15 tahun, mereka sudah bisa memiliki rumah,” ungkapnya.

Berbisnis tidak selamanya berjalan lurus dan pasti ada gelombangnya, terlebih sektor properti. Kekurangan modal dan memaksanya memeras otak mencari jalan keluar. Namun hal tersebut disiasatinya dengan mencari penyandang dana dengan sistem bagi hasil. “Kebetulan latar pendidikan saya dari ekonomi, sedikit-sedikit tahu jurusnya,” katanya.

Meskipun demikian, dia tetap mempertahankan komposisi kepemilikan sebesar 40 persen.

Naiknya harga bahan baku membuatnya perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian dan termasuk dengan kondisi krisis ekonomi global saat ini. Bila dahulu Elang melepas satu unit rumah sederhana seharga Rp23 juta per unit, sekarang rencana anggaran biaya (RAB) mencapai Rp33 juta per unit. Dengan jumlah itu baru bisa menutupi biaya produksi sekaligus memberi keuntungan.

Krisis ekonomi global saat ini disikapinya dengan optimisme. Pasalnya di industri properti Indonesia tidak terlalu bergantung pada asing, sehingga masih ada keyakinan pasar terus terbuka. “Industri properti Indonesia masih didominasi oleh pasar lokal. Orang asing belum boleh memiliki properti di Indonesia,” tandasnya.

Sebelumnya, rasa optimistis industri properti juga disampaikan Presdir PT Bakrieland Development Tbk Hiramsyah S Thaib. Hiramsyah melihat krisis ini sebagai momentum bagi industri properti untuk menata diri agar lebih berkembang dan kompetitif.

Krisis, akan menciptakan titik keseimbangan baru bagi pengembang. “Lihatlah, pengembang dengan fundamental kuat dan strategi yang tepat akan bertahan, dan bahkan makin eksis, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga global,” paparnya.

Namun, dia tidak menampik akan adanya sejumlah proyek yang tertunda akibat kesulitan likuiditas. (rhs)

Sumber :

Ahmad Nabhani – Okezone – Sabtu, 4 April 2009
http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/04/04/22/207700/diawali-menjual-donat-elang-gumilang-sukses-jadi-raja-tanah


Leave a comment

Usia 25 tetapi penghasilan Milyaran ( Kisah Bong Chandra), pengusaha properti termuda


Bong Chandra adalah anak ke dua dari tiga bersaudara, dilahirkan di Jakarta 25 Oktober 1987. Bong Chandra dilahirkan di keluarga yang sederhana dan segala sesuatunya selalu tercukupi. Dari kecil sampai SMA tidak ada yang prestasi yang menonjol yang telah dicapai Bong chandra. Beliau dulunya adalah seorang yang minder dan tidak mempunyai banyak teman, tubuhnya yang kecil, dan penyakit Asma yang dideritanya semakin membuatnya merasa kecil. Beliau juga tidak pernah mendapatkan 1 piala sekalipun, dan tidak pernah memenangkan lomba dan kompetisi manapun.

Hal ini makin diperparah ketika krisis ekonomi menerjang Indonesia tahun 1998. Saat itu keluarga dari Bong Chandra mengalami kebangkrutan. Awalnya Bong Chandra tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, namun Beliau mulai sadar ketika melihat rumahnya sendiri dipasang sebuah pengumuman bahwa rumah ini “DIJUAL”. Keadaan semakin parah ketika keluarga harus berhutang puluhan juta rupiah untuk membiayai kuliah Bong Chandra.
Keadaan yang begitu sulit justru membentuk Bong Chandra menjadi seorang anak muda yang lebih tangguh dibandingkan dengan anak seusianya. Di usia 18 tahun, Bong Chandra mulai merintis bisnis bersama teman – temannya. Dalam merintis bisnisnya saat itu, Bong Chandra banyak mendapatkan hinaan dan comooh dari orang disekitarnya. Dengan sebuah motor butut, Beliau terus merintis bisnisnya siang dan malam. Pergi keluar kota sendirian, kos di tempat yang sangat sederhana dengan jatah makan siang hanya Rp 1.200. Kehujanan dan kepanasan adalah hal yang biasa dialami oleh Bong Chandra.
Penolakan – penolakan yang dihadapi oleh Bong Chandra membuatnya bertumbuh menjadi seorang yang lebih kuat. Orang yang meremehkan dan menolaknya dulu sebenarnya telah melemparkan kayu ke dalam bara api yang menyala. Alih – alih down, Bong Chandra justru merasa tertantang untuk membuktikan kepada mereka yang meragukannya. Kini Bong Chandra telah berhasil membuktikan prestasi yang luar biasa kepada orang – orang yang dulu telah meragukannya.
Saat ini Bong Chandra telah memimpin 3 perusahaan dan membawahi 150 staff karyawan, antara lain; PT. Perintis Triniti Property, PT. Bong Chandra Success System, dan PT. Free Car Wash Indonesia. Bong Chandra juga merupakan seorang Developer yang saat ini sedang membangun Perumahan bernama Ubud Village di Selatan Jakarta seluas 5,1 hektar dengan nilai investasi Rp 180 Milyar. Beliau juga berencana akan membangun Super Blok Terbesar di Serpong dan sebuah kota mandiri seluas 80 hektar di Manado.
Bong Chandra juga merupakan pengarang buku Best Seller Unlimited Wealth yang saat ini hampir terjual 100.000 copy. 100% royati dari penjualan buku akan dsumbangkan ke Yayasan Vincentius Jakarta Pusat.
Beliau juga memberikan motivasi ke lebih dari 2 juta orang di TV ONE. Seminarnya selalu dihadiri ribuan orang, terhitung sejak awal 2010, Bong Chandra telah mengadakan 7x Seminar yang masing2 dihadiri 3000 orang.
Tahun 2009 Bong Chandra diundang untuk memberikan motivasi di Perusahaan Terbesar Dunia (versi Fortune 500). Bong Chandra juga telah diundang oleh beberapa perusahaan seperti, Shell, Bank BRI, Bank Mandiri, Panin, Commonwealth, Yamaha, Ciputra Group, PLN, Gramedia, Prudential, Sunlife, CNI, TVS Motor, TVI, Real Estate Indonesia, dan masih banyak lagi.
Semua pencapaian di atas dimulai dari NOL bahkan hutang. ini membuktikan bahwa yang terpenting bukan siapa Anda sekarang, tetapi ingin seperti apa Anda besok.


Leave a comment

Milyader di Usia 26 Tahun


Jalan hidup seseorang bisa begitu berliku adanya namun selalu saja tetap ada ujungnya. Kesuksesan adalah impian semua orang. Berlikunya jalan akan sampai pada kesuksesan asalkan dijalani dengan kesungguhan hati dan kerja keras.

Begitulah kisah yang terjadi dalam hidup seorang pemuda bernama Top Ittipat dalam menjalani usaha bisnisnya dan menghantarkan Tao Kae Noi, produk cemilan rumput lautnya pada dunia. Di usianya yang ke 26 tahun ini, Top telah menjadi seorang milyuner muda.

Pria kelahiran Thailand ini sesungguhnya hanyalah seorang biasa saja. Pada mulanya tak ada yang begitu spesial dari dirinya. Bahkan pemuda ini cenderung cuek dan tidak terlalu memikirkan masa depan.

Seperti kebanyakan pemuda seumurannya, Top pernah alami kecanduan game online saat dia berumur 16 tahun dan membuatnya telantarkan sekolahnya. Bukan satu hal yang baik tentu saja tapi perkenalan dunia bisnis justru dimulai dari sini.

Top mendapatkan uang dari menjual item senjata-senjata miliknya di game online. Dengan bisnisnya ini dia bahkan meraih penghasilan mencapai 1 juta Baht dan dapat membeli sebuah mobil seharga 600 Baht (sekitar 200 juta rupiah).

Para pembelinya adalah sesama pecinta game online dan ada juga yang berasal dari luar negaranya. Namun karena ini bisnis ilegal maka sudah pasti tak akan dapat bertahan lama. Rekening game onlinenya di blok karena diketahui melakukan transaksi jual beli.

Disaat yang bersamaan bisnis orang tuanya mengalami kebangkrutan dan disaat yang bersamaan pula karena kemalasannya di sekolah selama ini Top tidak berhasil masuk kuliah perguruan tinggi negeri dan harus masuk Universitas Swasta.

Dengan sisa uang yang dimilikinya Top beralih usaha ke bisnis DVD Player tapi Top ditipu mentah-mentah sebab semua DVD Playernya ternyata barang palsu dan uangnya tidak dapat kembali. Top juga berusaha mencari pinjaman uang ke bank untuk memulai usaha baru. Namun, pihak bank tak begitu saja menyetujuinya.

Di titik inilah Top mulai menyadari kesalahannya karena telah melalaikan sekolah dan pelajaran. Di titik yang sama ini jugalah, Top mulai bersentuhan dengan kerasnya dunia bisnis.

Hutang yang melilit usaha orang tuanya yang mencapai 40 juta Baht semakin memperburuk keadaan. Terlebih lagi rumah mereka disita pihak Bank. Ditengah himpitan ini Top tetap berkeras.

Setelah akhirnya dapatkan pinjaman dari bank, segala hal dia coba lakukan, Top mencoba berjualan kacang (chesnut) bersama dengan pamannya.

Diawali dengan mencari cara bagaimana strategi berjualan yang baik supaya bisa laris kepada para penjual kacang lainnya yang telah sukses sampai lakukan beberapa eksperimen untuk mendapatkan resep terbaik bagi produk kacangnya sehingga memiliki cita rasa yang khas dan unik.

Lalu akhirnya Top membuka kedai di mall dan belajar tentang menemukan tempat yang stategis. Sebab lokasi menjadi salah satu faktor menentukan dalam keberhasilan penjualan suatu produk.

Namun berwiraswata memanglah tidak mudah. Saat Top mulai melakukan ekspansi bisnis chesnutnya secara besar-besaran, timbul suatu masalah lain dimana mesin pembuat kacang goreng yang Top pergunakan menimbulkan asap dan mengotori atap Mall sehingga harus tutup dan pihak Mall juga membatalkan kontrak kedainya. Dititik ini Top hampir putus asa.

Orang tuanya pun memutuskan untuk pergi ke China. Top tetap berkeras untuk bertahan di Thailand dan melanjutkan usahanya. Dari bisnis jual kacang, Top beralih haluan untuk berbisnis rumput laut goreng. Makanan cemilan yang kekasihnya berikan.

Inspirasi memang bisa datang dari mana saja, sekalipun akhir kisah cintanya tak memberikan kenangan yang manis sebab kekasihnya pun akhirnya meninggalkan Top dikarenakan Top lebih konsentrasi mengurus bisnis dan usahanya.

Top pun memulai usaha kerasnya dengan mencari bahan rumput laut lalu belajar rahasia menggoreng rumput lautnya. Biaya yang dikeluarkan untuk pembelajaran ini mencapai lebih dari 100 ribu Baht.

Belum lagi Top juga harus mempelajari cara untuk mempertahankan rumput lautnya agar tidak basi jika disimpan untuk beberapa hari lamanya. Dalam tekanan yang begitu hebat Top berusaha mencari tahu tentang strategi penjualan dan inspirasi pun datang kembali untuk menjual produknya di mini market 7-Eleven.

Lagi-lagi tidak semudah membalik telapak tangan. 7-Eleven ternyata memiliki standard yang tinggi yang harus dipenuhi supaya produk Top bisa masuk pasaran. Berbagai upaya Top lakukan tapi semua mengalami kebuntuan.

Keputusasaan melanda dirinya. Top hampir-hampir memutuskan untuk berangkat ke China tapi sebelum itu terjadi Top melakukan usaha terakhirnya demi memenuhi syarat dari pihak 7-Eleven dan upaya terakhirnya kali ini tidak sia-sia.

Kesulitan yang ada mulai dari inovasi untuk kemasan produknya sampai Top juga diharuskan memiliki pabrik untuk memproduksi dalam jumlah besar. Dengan susah payah semuanya dapat terpenuhi.

Untunglah juga ada kantor kecil milik keluarganya yang masih tersisa, yang akhirnya Top ubah menjadi sebuah pabrik kecil. Dengan begini Top berhasil memenuhi syarat ketentuan serta quota yang ditetapkan. 2 tahun kemudian Top berhasil membayar hutang keluarganya dan berhasil mengambil kembali rumah keluarganya.

Perjuangan Top, segala kegagalan, getir dan pahit serta rasa duka dalam membangun sebuah bisnis kini mengantar Top pada sebuah kesuksesan.

Sekarang ini di Thailand siapa yang tak mengenal akan Tao Kae Noi produk cemilan rumput laut terlaris di Thailand bahkan telah masuk juga ke berbagai Negara tetangga termasuk Indonesia.

Dengan penghasilan 800 juta Baht per tahun dan mempekerjakan 2.000 staf maka Top Ittipat yang bernama lengkap Top Aitthipat Kulapongvanich ini telah berhasil mencatatkan dirinya sebagai “A young billionaire from Thailand“.

Top ittipat membayar kesuksesannya dengan berkorban jiwa, raga, waktu, kesenangan jadi gamer, termasuk berkorban cinta terhadap kekasihnya.

Seperti kata ibu si Top, “Sesuatu itu akan datang kepadamu namun sesuatu yang lain akan menjauh darimu.” Kesuksesan bisnis tidak semudah membalik telapak tangan. Sabar, bersyukur, terus berjuang pantang menyerah, dan berdoa adalah Top secret (rahasia si Top).

Berikut sinopsis ringkas nya: 

Saat usia 16, Dia adalah pencandu game online.

Saat usia 17, Ia putus sekolah untuk menjadi penjaja kacang.

Saat usia 18, Keluarganya bangkrut & meninggalkan hutang 40 juta Baht (sekitar 12 milyar rupiah)

Saat usia 19, Dia menciptakan cemilan rumput laut ‘Tao Kae Noi’ yg dijual di 3.000 cabang 7-Eleven di Thailand.

Kini, di usia 26, Ia adalah produsen cemilan rumput laut terlaris di Thailand, berpenghasilan 800 juta Baht (sekitar 235 milyar rupiah) per tahun & mempekerjakan 2.000 staf.

Namanya Top Ittipat, dan ini adalah kisah nyata hidupnya yang luar biasa. 

“Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah, kalau menyerah habislah sudah.”


Leave a comment

KISAH SUKSES TORU KUMON


Seorang Guru yang Tak Pandai Berdagang, Mengembangkan
Usaha Berskala Global

Toru kecil yang dalam dirinya tumbuh keinginan untuk menjadi orang yang berguna bagi orang lain dengan membuat orang-orang bahagia, suka membaca biografi tokoh-tokoh besar dunia. David Livingstone (1813-1873) yang mengabdikan hidupnya untuk memajukan perubahan positif pada orang-orang Afrika. Shoin Yoshida (1830-1859) yang peduli pada masa depan bangsa dan kemudian mengajar siswa-siswanya. Ada banyak cara untuk berguna bagi dunia. Toru terinspirasi, merasa seolah-olah ia melakukan kebaikan seperti pemeran utama dalam biografi. Di sekolah, ia melakukan kebaikan dengan membantu teman-temannya dalam belajar.
Yang memberikan Toru arah yang besar untuk cita-citanya adalah Catatan seminar dari seorang pemikir religius, Kanzo Uchimura (1861-1930) yang berjudul ‘Warisan Terbesar’. Catatan itu berbunyi, “Simpanlah uang dan tinggalkan untuk generasi yang akan datang sebagai niat baik. Jika hal ini sulit, wariskan usaha Anda untuk generasi yang akan datang. Jika Anda tidak pandai dalam usaha, jadilah seorang guru dan sebarkan ideologi dan pelajaran kepada mereka yang muda. Dalam hal manapun, warisan terbesar adalah mewujudkan keadilan yang Anda yakini sendiri dengan melewati kesulitan.” Toru yang sangat terkesan, berpikir, “Saya tidak pandai berdagang, dan merasa bersalah saat menjual sesuatu untuk mendapatkan keuntungan dengan menaikkan harga. Mewariskan bisnis untuk generasi yang akan datang, memerlukan uang. Yang tersisa pada saya adalah mengembangkan siswa dengan mengajar Matematika yang merupakan pelajaran yang saya kuasai…”Pemikiran ini merupakan bagian dari alasan Toru memilih jalan menjadi seorang guru di kemudian hari.
Toru yang telah menjadi seorang guru, melakukan ‘kebaikan yang sesungguhnya’ untuk membantu mengembangkan siswa-siswanya dengan memberikan mereka pelajaran dengan cara ‘belajar secara mandiri’ dan menggalakkan kegiatan membaca di sekolah almamaternya. Namun demikian, ketika menjadi guru di sekolah negeri yang memberikan pelajaran konvensional, ia tidak dapat mengajar sesuai dengan yang diinginkannya. Siswa hanya menyalin tulisan guru mereka di papan tulis kata demi kata, karena mereka lemah dalam kemampuan berhitung aljabar. Hati nuraninya menjadi terluka karena kenyataan ini sangat jauh dari keinginannya.
Dalam masa-masa itu, metode belajar yang telah Toru cobakan pada anak laki-laki pertamanya dengan bahan pelajaran yang ditulis tangan, menjadi sukses. Ini memberikan Toru sebuah titik balik. la melihat tanda-tanda yang menjanjikan di kelas-kelas yang memberikan bimbingan, termasuk kelas dimana Teiko mengajar. Katanya, “Ini adalah metode belajar dimana setiap anak mendapatkan manfaat!” Lebih jauh lagi, Toru telah memberikan kontribusi untuk sejarah revolusioner dalam hal penerimaan wanita di angkatan kerja. la telah menciptakan metode belajar yang menghargai kemampuan wanita dan mendorong wanita keluar dari adat tradisional dari ibu rumah tangga, menjadi orang yang memberikan kontribusi yang berharga dalam dunia pendidikan. “Jika saya dapat membantu siswa saya menjadi seorang guru, saya membantu mereka membentuk kehidupan mereka di masa depan juga!” Toru akhirnya menemukan usaha yang menjadi warisan terbesar’-nya.
Pada tahun 1958, Toru memulai pengembangan Metode Kumon yang sesungguhnya. Tujuannya adalah menyebarkannya ke seluruh dunia. ‘Daftar Rencana Usaha Pada Masa yang Akan Datang yang dikemukakannya pada tahun 1962, ter¬masuk di antaranya adalah: memberikan pendidikan Matematika di panti asuhan, mengembangkan ke wilayah Tokyo, mendapat permintaan kerjasama dari guru-guru SD, SMP dan SMA, mendirikan sekolah Kumon, memberikan bantuan dana untuk pendidikan, membangun laboratorium sains, menciptakan bahan pelajaran Kumon untuk program bahasa Jepang, bahasa Inggris dan bahasa Jerman, menyampaikan usulan-kepada Kementerian Pendidikan tentang pedoman kurikulum, menyebarluaskan bahan pelajaran ini ke luarnegeri, dan mendirikan taman kanak-kanak.
Ini menunjukkan dengan jelas antusisame Toru untuk bisnis pendidikan. Yang mengejutkan, ia memikirkan prospek masa depan ini pada saat dimana hanya ada 210 kelas dengan 2.500 siswa. Kita dapat melihat dengan jelas betapa jauhnya pandangannya untuk masa yang akan datang, bahkan di tahap yang sangat awal seperti ini.
Di masa itu, Dr. Albert Schweitzer (1875-1965) yang terkenal sebagai The Saint of the Primeval Forest’ (orang suci untuk hutan primitif), masih hidup. Toru berpikir, “Schweitzer pergi ke Afrika untuk menyebarkan pengajaran Agama Kristen dan tenaga medis. Kita akan pergi ke Afrika untuk menyebarkan Metode Kumon dan kita akan berjabatan tangan dengannya di tengah-tengah hutan.”
Toru berharap dapat menyebarkan Metode Kumon ke setiap sudut di dunia, sepanjang ada orang-orang yang ingin belajar. la yakin, “Metode belajar ini lebih baik dari metode lainnya yang sudah ada. Siswa akan senang belajar dan pembimbing akan senang membimbingnya dalam proses belajar mereka. Karena itu, saya harus menyebarkan metode ini dengan cara bagaimanapun juga.” Sejak Metode Kumon berdiri, beliau menapaki jalan yang tak tergoyahkan. Dan kitapun, saat ini, menapaki jalan yang sama. Kita berharap agar se-banyak mungkin anak terbuka pikirannya untuk menggali kebahagiaan dan perdamaian dunia melalui pengalaman belajar dengan Metode Kumon. Metode ini memberikan kepercayaan diri dan harapan untuk masa depan dan kebijaksanaan umat manusia. Inilah sebabnya mengapa sangat penting bagi Kumon untuk terus mengembangkan kegiatan ini tidak hanya di Jepang tetapi sampai ke seluruh dunia.
‘Metode Kumon untuk sebanyak mungkin anak!’ Ini adalah slogan terbesar kita dan menjadi tema abadi selama perusahaan ini masih ada.
Pandangan Toru yang jauh melampaui ‘hari ini’ ke masa yang akan datang, diungkapkan dalam kata-katanya: “Sebagaimana kita ketahui, misi Kumon adalah merubah tren pendidikan di dunia menjadi pendidikan perseorangan dan memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia dengan mengembangkan orang-orang yang handal.”


Leave a comment

Johnny Andrean: Melahirkan Ide-ide Kreatif dari Jalan-jalan


Nama ini begitu wangi belakangan ini. Tak cuma wangi sesampoan yang dimunculkan dari citranya yang melekat erat dengan dunia kecantikan, namun juga dari aroma roti dari butik-butik roti belakangan ini. Benar, dia adalah pemilik 209 gerai salon Johnny Andrean Salon-40 diantaranya berupa JA School and Training Center dan pemegang waralaba BreadTalk Indonesia yang kini sudah berjumlah 35 cabang.  Dia pula yang menciptakan waralaba lokal berskala internasional: J.Co Donuts and Coffee. Dalam waktu dua tahun, J.Co telah berdiri sebanyak 24 gerai.

September ini, Johnny kembali menciptakan momentum. Waralaba J.Co untuk pertama kalinya akan berkibar di mancanegara. Tepatnya 2 gerai di Kuala Lumpur dan 1 di Singapura. Dalam dunia pemasaran, boleh jadi ini menjadi hal yang fenomenal mengingat J.Co sendiri baru dibuka 2 tahun lalu dan langsung disambut antusias oleh pasar lokal. “Ke depan, saya ingin membuka pasar ke China, Hongkong, Korea dan Jepang,” ungkapnya bangga. Sebuah kebanggan yang wajar mengingat Johnny sudah 29 tahun merintis bisnis dan membiakkan waralaba, baru kini dia berhasil mendapatkan peluangnya. “Sudah saatnya brand Indonesia berkibar positif di manca negara,” tukasnya.

Bagi Indonesia, jelas ini sebuah prestasi besar. Setelah puluhan tahun diserang oleh waralaba donat-donat asing-dan juga waralaba apa saja di Indonesia, kini saatnya sang kaisar waralaba donat Indonesia go internasional,  “menyerang” balik  ke sarang lawan. Sejujurnya, ini adalah sebuah ungkapan keprihatinan Johnny akibat membanjirnya waralaba asing yang memasuki Indonesia dengan sangat mudah. Tapi brand Indonesia di mancanegara? “Boleh dibilang sangat tidak berimbang. Ini sangat tidak baik. Kita harus menciptakan sesuatu, dan inilah saatnya,” tegas pria 46 tahun ini.

Ke depan, dia sudah menyiapkan konsep kafe J. Lato. Untuk ini, dia sudah mengirimkan tim risetnya ke Remini dan Bologna. “Remini itu pusat gelato paling enak,” tukasnya. “Saya akan ciptakan gelato dengan rasa ketan item. Ini orisinil rasa Indonesia,” katanya seolah menjawab mengapa dia tak membuka gerai makanan Indonesia. Menurut Johhny, bekal untuk menuju pasar internasional adalah mempelajari know how-nya dulu. Setelah itu, baru dia masukkan rasa indonesia di dalamnya. ” Jadi, semua harus dilakukan dengan smooth….”

Untuk mendapatkan rasa “orisinal” itu, Johnny sendiri yang mengatur dan menentukan model menu yang akan disajikan. Anda bisa melihat bagaimana sentuhan tangan Johnny mampu merubah gaya donat standar menjadi lebih stylish. Seperti halnya Johnny mampu memengaruhi wanita dengan guntingan rambut ciptaannya, kreasi gaya donat yang diciptakannya itu ternyata menularkan ke gerai donat lain yang ada di Indonesia. Instingnya memang tak salah. Dan inilah kekuatan Johnny, ia mampu membentuk satu pasar baru melalui imajinasi gaya hidup yang ditawarkannya.

Keberhasilan ini memang tidak datang secara instan. Johnny sendiri adalah tipe pekerja keras yang intens, tak kenal lelah dan terus menemukan formula kesuksesan untuk bisnis yang ditanganinya. Seperti diungkapkan oleh Johnny tentang bagaimana ia bisa meraih kesuksesan itu.”Hidup memang harus selalu belajar dari pengalaman,” katanya berfilsafat. Bila konsepnya bisnisnya dan kualitas produk sudah diterima masyarakat, maka dengan segera dia akan melakukan duplikasi. Inilah resep kesuksesan Johnny hingga waralaba yang dimilikinya beranak pinak.

Untuk melengkapi wawasan berbisnis, tak segan ia melakukan perjalanan ke Amerika untuk mempelajari konsep marketing, Eropa untuk memelajari urusan penyajiannya, serta Jepang untuk display gerainya. J. Co adalah hasil dari kolaborasi perjalanan ini, selain tentu saja karena ia melanjutkan formula kesuksesannya di salon dan BreadTalk. Karena penataan interior, bar, dapur terbuka, hingga nama menu donat dan kopi terasa sangat Amerika, wajar saja bila jarang orang berpandangan bahwa J.Co Donuts and Coffee adalah waralaba asing. “Kita memang harus selalu berpikir ke depan,” ia menegaskan.

Dalam melakukan pekerjaannya, ayah 4 anak ini dibantu oleh tim yang terdiri atas anak-anak muda. “Disini justru yang muda yang dipercaya,” katanya sambil memplesetkan sebuah iklan rokok. “Saya suka anak muda karena dia tidak berpolitik. Kalau sudah senior, biasanya dia akan berpolitik. Ini mengganggu pekerjaan,” ungkapnya. Johnny sendiri mengaku sangat tidak berpolitik-satu pernyataan yang kontradiktif tentunya. Memilih tidak berpolitik merupakan satu sikap berpolitik bukan?

Bisa jadi, ia bukanlah tipikal pria yang suka terlibat dalam konflik. Dia memilih anak-anak muda karena dianggapnya akan lebih mudah dibentuk. “Seperti sebuah kertas putih, kita bisa mengaturnya. Seperti sebuah pohon, kita bisa membentuknya sesuai dengan keinginan kita,” Johnny membeberkan alasannya. Mereka juga lebih spontan, ini yang membuat Johnny mempunyai patner kerja yang sepadan. Lalu bagaimana dengan pegawai senior yang ada di kantornya? “Loh, mereka kan sudah jadi (sudah terbentuk). Artinya dia sudah menjadi aset perusahaan,”katanya. Soal apakah dia tipe atasan otoriter, Johnny lantas tertawa terbahak-bahak. “Tanyakan pada anak buah saya..,”

Gita Herdi, sahabat terdekat yang merangkap sebagai Public Relation Johnny Andrean Corporate memberikan pandangannya tentang atasannya itu. Katanya, “Dia tipikal pria workaholic. Meskipun dia seorang pemimpin, dia tidak sungkan untuk terjun langsung ke lapangan. Bahkan bila memang diperlukan, Sabtu-Minggu pun dia masuk ke kantor menemani kami.” Kedekatan inilah yang membuat Gita dan ribuan karyawan Johnny merasa memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap nasib perusahaan. Komunikasi dengan bawahan pun berlangsung cair, bahkan lebih terasa seperti bentuk hubungan pertemanan dibandingkan dengan hubungan atasan bawahan.

Meskipun kini dia sedang asyik-asyiknya mengerjakan industri roti, bukan berarti dia melupakan aktivitas waralaba salonnya. “Masih terus dong,,, sekarang saya kan sudah punya tim mantap. Mereka yang mengerjakan, saya terus memantau,” tukas Johnny. Ia juga membangun citranya melalui agenda Johnny Andrean Awards-ajang penghargaan bakat-bakat dalam dunia kecantikan, termasuk para bintang yang mempopulerkan rambut terbaru– setiap tahunnya. Lulusan Vidal Sasson Academy, London Inggris, Alexander de Paris, Perancis, Tony & Guy Academi London serta Trevor Sorbie Academi London ini kini juga kerjasama dengan Mandom Jepang untuk merekomendasikan produk-produk perawatan rambut untuk pasar Indonesia.

Arifaldi Dasril, Brand Public Relation Manager L’Oreal Professional Indonesia menyatakan kekagumannya pada etos kerja Jonny. Selama 4 tahun bekerjasama dalam agenda Johnny Andrean Award, Johnny menampakkan sifat yang terbuka dan mudah menerima pendapat orang lain. “Dia juga ulet untuk merangsang kreativitas stylist-stylistnya. Karena itulah L’Oreal Professional mengadakan kerja sama dengan Johnny yang dianggap memiliki misi yang sama: meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang dunia kecantikan rambut. “Dia tidak pelit berbagi pengetahuan,” tambah Arif.

Begitulah. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Dari ayahnya yang berbisnis di bidang usaha hasil bumi, dia diwarisi sifat-sifat ketegasan, ilmu wiraswasta, serta integritas dalam berkarya. Sementara, ibunya yang membuka salon kecil di rumahnya, Singkawang, Kalimantan Barat, memberikan banyak perhatian dan banyak rasa pengertian terhadap dirinya. “Sejak kecil, saya sudah membantu Ibu di salon,” katanya..

Johnny menuju Jakarta baru tahun 80-an, dan mendirikan salon kecil di Jakarta Utara. Jelas bukan perkara mudah untuk mengembangkan bisnis yang saat itu masih belum begitu banyak berkembang. Apalagi, ia berasal dari pulau yang jauh. Tapi bukan Johnny namanya bila dia tidak kreatif membuka pasarnya. Kunci kesuksesan sebuah salon adalah kedekatan hubungan dengan pelanggan. Pelayanan menjadi satu hal yang penting. Dan itulah yang dilakukan ole Johnny hingga ia merayap satu demi satu hingga membuka cabang di tempat lain.

Meskipun salon terus bertaburan, namun ia tetap yakin dengan usahanya. “Saya bisa memberikan pelayanan yang baik dan harga reasonable yang membuat salon saya menjadi kebutuhan banyak wanita,” begitu jawab Johnny, seolah menyindir banyaknya salon baru yang menawarkan layanan eksklusif dengan harga selangit. “Kalau orang membeli tas Hermes yang mahal, 20 tahun shape-nya sama, orang pun tahu mereknya. Tapi kalau salon? Walaupun dia digunting di Vidal Sasoon, apa dia mau teriak-teriak bahwa dia dipotong disana? Lagian, setelah keramas, bentuknya sudah berubah bukan? Saya ingin salon itu ke market yang lebih luas, bukan segelintir orang saja. Ini fokus kita.”

Dunia salon identik dengan dunia transgender, Johnny mengakuinya. Dia justru mengakui kelebihan kaum transgender yang terasa lebih kreatif dibanding yang lain. “Mungkin mereka lebih bisa menyelami hati wanita ya?,” ungkapnya tersenyum. Lalu melanjutkan,” Tapi banyak jalan menuju Roma bukan. Meski saya bukan transgender saya juga bisa menyelami wanita. Bagi saya, inilah yang benar.” Ia lantas menyebutkan nama Vidal Sassoon. Tony and Guy sebagai pemilik salon yang memiliki keluarga bahagia, seperti dirinya.

Ketika bicara cinta, pendar-pendar keceriaan itu terasakan di wajah Johnny. “Saya jatuh cinta pada Tina karena rambutnya yang panjang. Ketika itu, sulit sekali bagi saya menemukan wanita cantik yang menjaga rambut panjangnya,” katanya. Karena itu, ketika ia menemukan Tina, ia merasa bahwa wanita yang kemudian dinikahinya ini memiliki karakter yang unik, telaten, bisa merawat dirinya dan keluarganya. Seperti ia bercermin pada keluarganya, ia berprinsip bahwa kesuksesan karir sangat tergantung pada keberhasilannya merawat rumah tangga.

Firasat Johnny tidak salah. Ia menceritakan, lagi-lagi dengan binar matanya, tentang cinta yang tumbuh dan berkembang di dalam keluarganya. Di rumahnya yang asri, ia melengkapi seluruh fasilitas, seperti ruang keluarga yang nyaman tempat Johnny dan anak-anaknya mendengarkan lagu-lagu slow, salon untuk merawat rambutnya supaya tetap sehat dan berkilau, spa untuk merawat kulit tubuhnya, hingga fitness center. “Rumah adalah tempat saya pulang. Tempat saya merasa selalu nyaman,” ungkapnya.  Di rumah inilah, Tina merawat kulit wajahnya supaya tetap segar dan kencang seperti sekarang ini.

Tentang kedekatan ini, Tinapun mengakui. “Sebagai seorang ayah, dia sayang dengan keempat anaknya. Sementara sebagai suami, dia sangat memperhatikan saya. Bahkan cenderung protektif, tapi saya yakin itu pasti untuk kebaikan.” Johnny selalu melewatkan masa weekendnya bersama keluarga. “Dia ingin saya selalu memasakkan untuknya, dan kami makan bersama-sama di rumah,” cerita Tina. Jenis masakan yang disukai: makanan Jepang dan Italia.

Apa kata Johnny tentang ini? “Saya sebenarnya bukan pria rumahan. Tapi sepertinya itu adalah hal yang harus saya bayar karena setiap hari ada diluar, gak pagi gak malam, terkadang sampai malam. Nah, karena itu kita harus ada di rumah untuk balance, mencari inspirasi baru,”katanya. Mungkin, Johnny ingin memberikan wewangian itu untuk keluarganya, dengan limpahan kasih sayang dan kehangatannya..


Leave a comment

Dari Presidir Bank Ke Tukang Bersih Bersih – Kisah Sukses – Bambang Nuryanto Rachmadi


Suatu malam penghujung 1989, di sebuah restoran McDonald’s di kawasan Orchard Road Singapura, seorang lelaki bertubuh subur sedang membersihkan meja. Dengan seragam T-shirt bergaris-garis merah yang agak kesempatan dan topi berlabel M khas McDonald’s, lelaki yang tak lain adalah Bambang Rachmadi, mantan presdir Panin Bank tadi tampak serius bekerja.

Jatuh miskinkah ia ? Bisa jadi. Karena setelah mengundurkan diri dari kursi puncak Panin Bank pada November 1988, nama Bambang nyaris tenggelam. Tak terdengar lagi apa kegiatannya kemudian. Bila setahun kemudian banyak pengusaha Indonesia melihatnya tiba-tiba menjadi pekerja kasar di jaringan fast-food terbesar di dunia itu, orang pun bertanya-tanya. Repotnya, Bambang pun tak bisa menjelaskan apa yang sedang ia lakukan. “Soalnya saya mesti jaga rahasia.

Saya nggak ingin pers Indonesia tahu sehingga membuat MD batal memberikan lisensinya kepada saya,” ucap menantu Wapres (ketika itu) Sudharmono, yang kini managing director PT Ramako Gerbangmas, pemilik dan pengelola jaringan restoran McDonald’s Indonesia. Kehati-hatian Tonny, sapaan akrab Bambang tampaknya memang wajar. Karena MD adalah satu-satunya taruhan Tonny setelah keluar dari Panin.

Apalagi, ia harus menunggu satu tahun setelah memasukkan aplikasi hanya untuk bisa dipanggil mengikuti pelatihan. Dan pelatihan di Singapura yang disebut On the Job Experience (OJE) itu, bukanlah lampu hijau untuk memperoleh lisensi MD. OJE adalah semacam tes awal bagi pelamar. Tapi itulah tes yang paling berat. Karena dalam latihan kerja pelayan, seperti melap meja, membersihkan toilet serta menjadi tukang parkir, inilah para pelamar banyak yang gugur.

Pada Februari 1991, restoran MD milik Tonny resmi dibuka di Gedung Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta. Dibukanya outlet MD pertama di Indonesia itu sekaligus menjawab pertanyaan tentang menghilangnya Tonny selama 2,5 tahun dari dunia bisnis Indonesia. Restoran itu juga merupakan buah dari perjuangan Tonny selama hampir tiga tahun. Dia adalah salah satu dari 13 orang Indonesia yang melamar ke MD selama 10 tahun ini. Dan untuk menang, kali ini ia harus bersaing dengan 39 kandidat.

Ide menjadi wirausaha bermula ketika ia mulai “bosan” menjadi pucuk pimpinan di bank milik Mu’min Ali Gunawan. Padahal sebagai bankir – ia diangkat menjadi presdir Panin Bank pada usia 35 tahun – karier Tonny tergolong pesat. Sejak 1971 hingga 1974, sembari menyelesaikan kuliahnya di FHUI Extension, kelahiran Jakarta 41 tahun silam ini bekerja di PT Cicero
Indonesia.

Setahun kemudian ia hijrah ke Bank Duta. Dari bank tersebut ia peroleh kesempatan belajar ke Negeri Paman Sam. Hasilnya pada 1978 ia berhasil menyabet dua gelar: MSc bidang internasional banking & finance dari Saint Mary’s Graduate School of Business Moraga, dan gelar MBA dari John F. Kennedy University Orinda – keduanya di California. Dengan dua gelar itu, Tonny kembali ke tanah air dan kembali ke Bank Duta pada 1978.

Setelah sempat manajer divisi operasi di kantor pusat, ia kemudian dikirim ke Surabaya sebagai branch manager pada awal 1979. Setahun kemudian ia dipromosikan menjadi kepala divisi pemasaran. Dia meninggalkan posisinya di Bank Duta sebagai managing director International Banking pada September 1986 untuk bergabung dengan Panin Bank. Sebagai orang nomor satu di Panin Bank, ketika itu Tonny sempat melakukan beberapa pembenahan; manakala kondisi Panin dikabarkan lagi tertimpa malapetaka.

Menurut harian The Asian Wall Street Journal, Bank Indonesia sampai menggolongkan Panin dalam klasifikasi tidak sehat. Di tangan Tonny, perlahan-lahan bank ini mulai melesat lagi. “Tapi yang lebih penting, bank ini sekarang sudah dinyatakan sehat oleh BI,” ucap Tonny suatu ketika. Kendati boleh dibilang Tonny cukup berhasil dalam mengemudikan Panin Bank, toh kursi presdir malah membuatnya gerah. “Salah satu yang mengganngu pikiran saya adalah karier saya di bank,” ucap Tonny dengan lirih. Lho? Sebagai orang muda, ia merasa kariernya di perbankan sudah mentok.

Alasan yang lebih klasik lagi adalah sudah tak ada tantangan. Dan ia ingin mencari tantangan di lahan yang lain. Apalagi, selama menjadi bankir, Tonny lebih banyak berperan sebagai penasihat bagi kalangan usaha. “Saya tergugah untuk membuktikan diri sebagai pemain,” ucap lelaki yang bergabung dengan Panin Bank selama dua tahun itu. Tekadnya menjadi pengusaha sudah bulat. “Saya ingin jadi pengusaha yang sukses,” katanya penuh semangat.

Sebelum mengundurkan diri dari Panin, ia telah melakukan survei tentang beberapa bidang usaha yang potensi perkembangannya cukup bagus. Walau dalam benaknya terlintas beberapa bidang usaha, toh industri makananlah, menurut dia, yang paling pas baginya. Dan McDonald’s adalah partner yang ia pilih. Alasannya, selama ini restoran MD cukup bagus, dan hampir semua outlet-nya sukses. “Saya berketetapan harus bisa memperoleh lisensi MD,” ucap bapak tiga anak yang rambutnya sudah dua warna itu. Memperoleh lisensi MD adalah tantangan yang tak mudah.

Paling tidak terlihat dari daftar pelamar dari Indonesia selama 10 tahun terakhir ini, ada 13 ribu orang, dan belum ada satu pun yang berhasil. Dan yang lebih berat, konon, MD tak menginginkan mitra kerja yang tidak memberikan komitmen 100%. Itulah sebabnya pada bulan September 1988 ia memilih mengundurkan diri dari Panin, hanya dengan satu cita-cita: memperoleh lisensi MD. Pada saat itu memang terkesan Tonny mempertaruhkan seluruh kariernya yang hampir 14 tahun di dunia perbankan.

Padahal, keinginannya untuk menjadi pemegang lisensi MD Indonesia belum tentu tercapai. “Kalau waktu itu saya nggak dapat MD, ya saya harus siap mulai lagi,” kenangnya. Setelah bebas dari Panin, ia mulai mengurus permohonannya ke MD. Setelah itu? “Hari-hari penantian yang menegangkan,” ucap Tonny bersemangat. Tentu saja menegangkan, karena ia harus menanti satu tahun sampai diperbolehkan mengikuti pelatihan. Menanti sesuatu yang belum pasti sangat menegangkan bagi Tonny.

Karena itu ia selalu berusaha berkomunikasi dengan MD Pusat. “Paling tidak seminggu sekali saya berusaha menelepon mereka sekedar just to say hello,” ucap lelaki yang pernah diusir dan diperlakukan kasar ketika mencoba mengunjungi MD Pusat ini. Tersinggung? Tidak. Sebab dia sadar betul bahwa semua yang ia lakukan dengan satu tujuan, “Saya harus menunjukkkan bahwa saya sangat menginginkan.”

Menurut Tonny, MD adalah pemberi lisensi yang cukup ketat dalam menyeleksi calon mitra kerjanya. Konon, sebelum memilih Tonny, pihak MD ingin mengenal secara dekat keluarga besar Tonny. “Mereka ingin tahu bagaimana latar belakang dan kehidupan keluarga kami,” jelasnya. Karena, MD menginginkan bisnis ini bisa diteruskan oleh anak-anak Tonny. Bahkan, dalam salah satu kontrak yang harus disepakati – setelah lisensi diberikan – MD mesti mengetahui segala persoalan yang terjadi dalam manajemen PT Ramako Gerbangmas (RG), sekalipun mereka tak memiliki saham di situ.

Hal ini disyaratkan, karena pihak MD tak menginginkan kalau tiba-tiba saja saham RG berpindah tangan ke pihak lain yang juga memiliki bisnis fast food merek lain, misalnya. MD juga mensyaratkan bahwa pemilik saham mayoritas RG harus juga pemegang kendali bisnisnya. Maksudnya, supaya orang yang mengambil keputusan di bisnis ini nantinya adalah orang yang benar-benar menguasai bidangnya. Maka, sejak awal pihak MD telah menanyakan kepada Tonny maupun istrinya tentang siapa yang akan menjadi Mr. Atau Miss McDonald’s. Begitulah.

Setelah satu tahun menegangkan, datanglah keputusan bahwa ia boleh mengikuti pelatihan. Tempat pelatihan pertama sengaja dipilih di Singapura. “Karena di sana banyak orang Indonesia. Sehingga pressure-nya lebih tinggi,” kata lelaki yang gemar naik motor gede ini. Dan benar, selama tiga bulan pertama pelatihan – di mana Tonny harus berseragam pelayan – ia selalu bertemu kenalannya dari Indonesia. Selain pelatihan yang bentuknya non manajerial, Tonny juga diuji bekerja selama 18 jam nonstop.

Dari situ akan terlihat seseorang memiliki bakat melayani atau tidak. Karena, pada jam-jam pertama barangkali orang masih bisa bersikap manis. Tapi bila telah masuk jam ke-8 dan seterusnya, maka tingkat kelelahan dan stresnya sudah tinggi, hilanglah sikap manis. “Biasanya banyak yang nggak lulus di sini,” ucap Tonny, lalu tertawa. Dalam pelatihan, Tonny yang sebelumnya tak pernah mengepel lantai, apalagi membersihkan kamar mandi, terpaksa melakukan semua pekerjaan – yang dalam istilah Tonny: pekerjaan tanpa otak – itu dengan hati lapang. Walau sering kali ia harus menerima bentakan dan mengulangi hasil kerjanya lantaran dinilai kurang bersih, misalnya.

Hasilnya memang memuaskan. Dia berhasil meninggalkan 39 pelamar dan mengalahkan tiga kandidat. Dari pelatihan “kuli” tadi, baru Tonny digodok di Sekolah milik McDonald’s yaitu: McDonalds Corporation Hamburger University selama 1 tahun. Sekolah itu mendidik para calon store manager MD. Sistem pelatihan yang pernah dialaminya kini ia terapkan bagi semua calon manajer di MD Indonesia.

Setiap manajer yang ada di MD adalah orang yang telah dilatih dari bawah. “Jadi nggak mungkin seseorang masuk langsung jadi store manager,” ucap pengusaha yang suka berbusana seadanya ini. Muti Soetoyo adalah salah seorang manajer yang sempat merasakan pelatihan gaya MD. Kelahiran Jakarta 27 tahun silam ini, termasuk karyawan pertama MD yang di-training. Lulusan IKIP Jakarta 1988 itu bergabung dengan PT RG Juli 1990, lalu dikirim ke Singapura untuk mengikuti program pelatihan.

Sebelum diterima menjadi karyawan, lajang berpostur sedang ini diperkenalkan dengan program OJE. Dalam program ini ia diberi kesempatan mengenal pekerjaan crew dalam beberapa shift. Dari “latihan” tiga hari itulah diputuskan apakah ia bisa diterima atau tidak, untuk kemudian diperkenalkan mengikuti pelatihan selanjutnya selama lima bulan. “Saya dulu nggak pernah membayangkan kalau training-nya seperti itu,” ucap Muti, first assistant store manager di MD Sarinah, Jakarta, sejak Juni lalu. Ternyata kini Muti justru sangat menikmati pekerjaannya.

Bahkan, tak jarang ia harus stand by di kantor sampai pagi hanya untuk menunggu mesin yang sedang direparasi misalnya. Ketika digodok untuk menjadi training manager ™ Muti harus melalui tahap pelatihan pelayanan. Setelah lulus, Muti ditempatkan di salah satu outlet MD di Singapura. Dan pada saat MD Jakarta dibuka, single yang hingga kini masih kuliah di FEUI ini telah menjadi second assistant store manager. Selain Muti, masih banyak Muti-Muti lain yang telah tersebar menjadi manajer-manajer di lima outlet MD. Dan selama ini proses pendidikan terus berlangsung.Apalagi, untuk tahun 1992 Tonny menargetkan akan membuka 10 cabang di seluruh Nusantara.

Hasil kerja keras Tonny selama 2,5 tahun diuji MD memang cukup menakjubkan. Setidaknya, itu terlihat ketika restoran pertama MD dibuka di Sarinah Jakarta. Begitu menggebrak pasar, Tonny mengklaim bahwa setiap hari rata-rata terjadi 4 ribu transaksi. Bahkan, majalah Fortune edisi Oktober 1991 meramalkan penjualan outlet Tonny akan menempati posisi teratas dari 12 ribu restoran MD di seluruh dunia.

Setelah menjadi wirausaha dengan anak buah yang hampir 1.000 orang, masihkan ia berpikir untuk jadi bankir lagi? “Saat ini sih nggak,” ucapnya serius. Tampaknya, saat ini Tonny lebih suka berkonsentrasi mengembangkan kewirausahaannya ketimbang kembali jadi profesional. Tapi, akhirnya Tonny tergoda juga untuk masuk ke bank lagi. Itu terjadi ketika ia mengambil oper 73% saham Bank IFI pada tahun 1995. “Sebagai pemegang saham, di Bank IFI saya hanya menjadi komisaris. Saya tetap memegang MD.

Komitmen saya penuh pada MD,” kata Tonny. Ya, Tonny tentu tidak akan “nekat” menjadi pengelola bank lagi. Dengan 42 outlet yang dimilikinya pada pertengahan 1996, MD memberikan arus kas yang luas biasa bagi Tonny. Transaksi MD selalu tunai. Siapa yang sudi melepas mesin kas seperti itu ? Dengan memiliki usaha sendiri minimal Tonny terbebas dari keharusan berpakaian rapi, berdasi dan wangi. Kini Tonny sudah terbiasa mengenakaan pakaian santai, mengendarai Harley Davidson untuk memonitor Kelima outlet yang tersebar di Jakarta.

Hadirnya MD di Indonesia, ternyata tak cuma menambah “gemuk” Tonny – yang nyaris menamai kegendutan mascot MD – saja. “Berat badan saya 70 kg,” ucapnya dengan mimik serius. “Itu nggak pakai tangan, kaki dan kepala. Ha…ha…ha…,” sambil tertawa berderai. Yang jelas, Sarinah, gedung pertokoan bertingkat pertama di Jakarta ini juga terimbas kesuksesan MD. Sejak kebakaran pada awal 1980-an Sarinah nyaris hilang dari peredaran.

Apalagi munculnya pusat-pusat perbelanjaan yang lain, semakin menenggelamkan nama Sarinah. Namun setelah MD mangkal di situ Sarinah menjadi marak kembali. Itulah Tonny, dia adalah satu diantara segelintir profesional yang berani mengambil resiko. Melepaskan atribut keprofesionalannya, kemudian memulai dari nol untuk menjadi seorang wirausaha. Dan berhasil !

Kini dia peroleh nama baru : Mr. McDonald’s.


Leave a comment

Menjadi Milyarder Di Usia Muda



Satu lagi anak muda Surabaya menorehkan prestasi besar. Dia adalah Hendy Setiono, presiden direktur Kebab Turki Baba Rafi. Prestasinya tidak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di mancanegara. Mengapa?
Wajah dan penampilannya masih layaknya anak muda. Siang itu, dia berkemeja batik cokelat dipadu celana hitam. Cukup sederhana. Tak tecermin tampang seorang bos dari perusahaan beromzet lebih dari Rp 1 miliar per bulan.
Itulah penampilan sehari-hari Hendy Setiono, Presdir Kebab Turki Baba Rafi Surabaya. Oleh majalah Tempo edisi akhir 2006, dia dinobatkan sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia. Tentu, sebuah pengakuan yang membanggakan bagi Hendy. Apalagi, bisnis yang dia geluti tergolong bisnis yang tak akrab di telinga. Usianya pun masih 23 tahun! Wow, masih sangat muda untuk seorang bos yang memiliki 100 outlet di 16 kota di Indonesia.

Dengan ramah, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983, tersebut mempersilakan Jawa Pos masuk ke kantornya di Ruko Manyar Garden Regency, kawasan Nginden Semolo. “Biasanya saya masuk kantor agak siang. Tapi, karena hari ini ada janji dengan Anda, saya agak meruput datang ke kantor,” ujar Hendy mengawali perbincangan.
Ketika itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 11.00. Bagi Hendy, pukul 11.00 masih terbilang pagi karena biasanya dirinya baru masuk kantor lebih dari pukul 12.00.
Dia lalu menceritakan awal mula bisnis kebab yang digelutinya tersebut. Kebab adalah makanan khas Timur Tengah (Timteng) yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak beredar di Qatar dan negara Timteng lainnya.
Namun, kata Hendy, kebab paling enak adalah dari Istambul, Turki. Karena itu, dia menggunakan “trade mark” Turki untuk menarik calon pelanggan.
Hendy mengisahkan, pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Selama di negeri yang baru sukses melaksanakan Asian Games itu, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat. Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. “Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga rasanya seperti itu,” ungkap sulung dua bersaudara pasangan Ir H Bambang Sudiono dan Endah Setijowati tersebut.
Tak hanya perutnya kenyang, saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timteng yang menyebar di berbagai kota.
“Orang Indonesia juga banyak yang naik haji atau umrah. Biasanya, mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. Nah, mereka bisa bernostalgia makan kebab cukup di outlet saya,” jelasnya.
“Makanya, selama di Qatar, saya juga memanfaatkan waktu untuk berburu resep kebab. Saya mencarinya di kedai kebab yang paling ramai pengunjungnya,” jelas Hendy yang beristri Nilamsari, 23, dan kini sudah dikaruniai dua anak, Rafi Darmawan, 3, dan Reva Audrey Zahifa, 2, tersebut.
Begitu tiba kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.
“Ternyata, resep kebab dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya cukup kuat tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Makanya, kami memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familier dengan orang Indonesia,” katanya.
September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya.
Mengapa gerobak? Hendy mempunyai alasan. “Membuat gerobak lebih murah daripada membuat kedai permanen. Tidak perlu banyak modal. Gerobak pun fleksibel, bisa dipindah-pindah,” ujarnya.
Soal nama kedainya Baba Rafi, dia mengaku terinspirasi nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. “Diberi nama Kebab Pak Hendy kok tidak komersial,” katanya lalu tergelak.
Saat itulah terlintas di benaknya nama si sulung, Rafi. “Kalau dipikir-pikir, pakai nama Baba Rafi, lucu juga rasanya. Baba kan berarti bapak, jadi Baba Rafi berarti bapaknya Rafi.”
Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Apalagi untuk meraih sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan calon bapak tiga anak itu. “Misalnya, uang berjualan dibawa lari karyawan. Banyak karyawan yang keluar masuk. Baru beberapa minggu bekerja sudah minta keluar,” ungkapnya.
Bahkan, pernah suatu hari, karena tak mempunyai karyawan, Hendy dan istri berjualan. Hari itu kebetulan hujan. Tak banyak orang membeli kebab. Makanya, pemasukan pun sedikit. “Uang hasil berjualan hari itu digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Wah, itu pengalaman pahit yang selalu kami kenang,” ujarnya.
Tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan bisnis, lulusan SMA Negeri 5 Surabaya tersebut akhirnya memutuskan berhenti dari bangku kuliah pada tahun kedua. “Saya OD alias out duluan. Tapi, saya tidak menyesal meninggalkan bangku kuliah untuk membangun usaha,” tegas Hendy yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Informatika ITS tersebut.
Keputusan dia untuk meninggalkan bangku kuliah guna menekuni bisnis kebab tersebut sempat ditentang orang tuanya. Mereka ingin Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya. Karena itu, ketika dia meminta bantuan modal, orang tuanya menganggap bisnis yang akan dilakoni tersebut adalah proyek iseng. “Mereka pikir saya tidak serius pada bisnis itu. Dalam hati, saya ingin membuktikan kepada bapak dan ibu bahwa kelak saya pasti berhasil,” jelasnya.
Yang luar biasa, kesuksesan bisnis Hendy tak perlu waktu lama. Hanya dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana. Bahkan, hingga pengujung 2006, pengusaha muda tersebut mencatat telah memiliki 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
Ke depan, Hendy berencana mengembangkan usahanya itu ke luar negeri. Dua negara yang diincar adalah Malaysia dan Thailand. “TV BBC London dan majalah Business Week International pernah meliput usaha saya tersebut. Setelah itu, ada orang yang menawari saya membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja,” jelasnya.
Sukses bisnis kebab waralaba Hendy itu juga menghasilkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 yang diberikan menteri koperasi dan UKM. Hendy juga ditahbiskan sebagai ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006. Untuk meraih award tersebut, dia bersaing dengan 20 kandidat pengusaha lain dari berbagai negara di Asia.
Pria kalem itu juga mendapatkan penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 yang dianugerahkan Profesi Indonesia. Kemudian, penghargaan Enterprise 50 dari majalah SWA untuk 50 perusahaan yang berkembang dalam setahun terakhir. Serta, di pengujung 2006, majalah Tempo menobatkan Hendy menjadi salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang mengubah Indonesia.
Apa yang akan dilakukan Hendy selain mengembangkan usahanya ke mancanegara? Tampaknya, dia ingin seperti raja komputer, Bill Gates. “Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. Jadi, intinya, untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi,” tegasnya lalu tertawa.
Sumber : Jawa Pos